Bankir yang Banting Setir
Agustus 29, 2010 pukul 2:33 pm | Ditulis dalam Career | Tinggalkan komentar
Sebelum menjadi motivator ternama, Tung Desem Waringin adalah karyawan PT Bank Central Asia (1992-2000). Kinerja Tung di BCA mengesankan: membuat tiga kantor cabang yang merugi menjadi untung. Bahkan jumlah nasabah BCA Kota Malang dalam dua tahun melonjak 500% dari 20.000-an menjadi 120.000-an. Padahal, ketika itu penduduk Kota Malang hanya 700.000-an.
Kinerja itu membuat Tung diincar bank-bank dan headhunter. Namun, saat kariernya menanjak, pria kelahiran Solo ini malah berhenti jadi bankir. Ia hijrah ke Lippo Group dan dipercaya menggarap bisnis eceran online lewat LippoShop. Akan tetapi itu pun tak lama. Dua tahun kemudian Tung memutuskan berhenti sebagai profesional dan banting setir menjadi motivator. Mengapa?
Ada dua sebab. Pertama, penghasilan sebagai profesional dirasanya kurang memadai. Kedua, ia tak bisa mengeksekusi ide-idenya lantaran banyak yang ditolak atasan.
Tung terpikat menjadi motivator saat mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura. Kala itu dia tersihir oleh kepiawaian Robbins dalam memotivasi peserta. Maka, ketika tahu motivator ternama itu ingin menggelar seminar di Hawaii pada 11 September 2001, Tung ngotot hadir. Untuk itu, Tung rela menjual tanahnya seluas 528 meter persegi di Malang, Jawa Timur. Seminar yang digelar berbarengan dengan Tragedi 9/11 di New York, AS, itu sungguh memotivasi Tung.
Namun, waktu memulai berbisnis, Tung sempat gamang. Suryani Untoro, istri Tung, baru melahirkan anak kedua. Mereka belum punya rumah dan mobil. Imbuh Tung, “Orang tua juga sedang sakit.” Godaan datang. Ada tawaran kerja dengan gaji lumayan. Namun, Tung kukuh dengan tekadnya. “Modal saya nekad dan berani,” cetus Tung.
Klien pertama Tung adalah Columbia, perusahaan pembiayaan produk furnitur dan elektronik, dan AMA-Indonesia (Asosiasi Manajemen Indonesia). Dari keduanya Tung tak dibayar. Alasannya? “Saya utang budi dengan Leo Chandra, pemilik Columbia. Kalau di AMA kebetulan saya ketuanya,” tutur pria 44 tahun ini, terkekeh.
Lalu, datang klien sesungguhnya, yakni kantor berita Reuters di Jakarta, yang membayar US$2.000 per seminar, dan PT BASF Indonesia dengan tarif sama. (Kini, tarif Tung US$12.000 per seminar.) Sejak itu klien-klien pun berdatangan. Pernah dalam sebulan Tung mendapat order 52 kali. “Sehari dia mengisi acara di tiga kota berbeda, yakni Jakarta, Bandung, dan Surabaya,” tutur Suryani, sang istri. Ada 600-an yang menjadi klien ayah tiga anak itu.
Tung kian bersemangat ketika tahu penjualan klien-kliennya melonjak ratusan persen. Kunci sukses Tung adalah membuat peserta termotivasi. “Jadi bukan cuma tahu, tapi yang terpenting membuat orang berubah menjadi lebih baik,” tandas Tung.
Kini, Tung mengoperasikan TDW Resources yang didirikan tahun 2003 dan punya 23 karyawan. Ia mulai mengurangi aktivitas seminar dan fokus dengan bisnis barunya: properti, toko buku, dan pabrik tabung gas. (dimuat di Fortune Indonesia, vol.01/juli 2010)
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.