Kiat Mereka Menempa Generasi Ketiga

Oktober 22, 2010 pukul 1:11 am | Ditulis dalam Family Business | Tinggalkan komentar

Ke depan, persaingan bisnis bakal semakin cadas. Ini dia yang dilakukan perusahaan-perusahaan keluarga dalam menempa generasi ketiganya: kirim sekolah ke luar negeri, biarkan mencari kerja di sana, tugaskan mengelola proyek khusus atau unit bisnis, dan serahkan CEO untuk membimbing.

“Saya sangat serius mempersiapkan masa depan anak-anak saya. Saya mau anak saya kelak menjadi aset, dan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun perusahaan.” Ungkapan itu dilontarkan Sudhamek Agung WS, CEO Tudung Group (GarudaFood), kepada Fortune Indonesia. Sudhamek adalah generasi kedua di Tudung Group.

Maka, Sudhamek pun mengirimkan tiga anaknya bersekolah di luar negeri. Anak pertama Sudhamek, yakni Adhitya Eka Putera Soenjoto, 26, kuliah S1 jurusan ekonomi di University of Michigan, Ann Arbor, dan S2 jurusan kewirausahaan di Babson University, Boston, keduanya di AS. Aditya sudah menamatkan kuliahnya dan pernah bekerja di perusahaan Ernst & Young Hongkong. Anak kedua, Yudie Tirta Prawira Soenjoto, 21, masih kuliah S1 di University of Michigan. Lalu, yang bungsu, Henny Nirmala Soenjoto, 17, masih kuliah di Lassale Collage of Art di Singapura.

Keseriusan serupa juga terjadi di Grup Salim. Kesaksian ini datang dari Gunadi Sindhuwinata, CEO Indomobil Group. Indomobil adalah salah satu grup usaha yang berada di bawah naungan Grup Salim, yang kini dikelola oleh Anthoni Salim. “Saya sangat tahu bagaimana Anthoni Salim membekali dan menjadi mentor bagi anak-anaknya, dengan harapan kelak mereka memiliki bekal yang memadai untuk memimpin perusahaan,” ungkap Gunadi.

Ketiga anak Anthoni tersebut, menurut Gunadi, adalah Astrid, Axton, dan Excel. “Mereka mulai ditempatkan di beberapa unit bisnis, agar terbiasa menghadapi kompleksitas persoalan bisnis dan mampu mencarikan jalan keluarnya,” tutur Gunadi.

Ke depan, bisnis memang semakin kompleks dan kian sulit diprediksi. Ini diakui oleh Henri Honoris, President Director PT Modern Putra Indonesia dan Direktur PT Modern Internasional Tbk., generasi ketiga yang kini mengelola bisnis Modern Group. “Saya akan menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Tak ada yang bisa memprediksi hari esok. Kami susah menebak ke arah mana tren konsumen. Perkembangan teknologi, adanya internet, facebook, atau twitter, juga bisa membuat selera konsumen makin cepat berubah. Jadi, kami harus cepat belajar dan mengikut kemauan pasar,” kata Henri, panjang lebar.

Henri benar. Persaingan bisnis bakal semakin sengit, terlebih lima-sepuluh tahun ke depan. Saat ini di depan mata sudah ada era ASEAN Free Trade Area (AFTA), lalu CAFTA (perdagangan bebas ASEAN+China). Ke depan, era perdagangan bebas dunia sudah menunggu. Persaingan bakal semakin tajam bila perjanjian perdagangan bebas antarblok ekonomi disepakati. Misalnya, antara ASEAN dan India maupun dengan blok ekonomi lainnya. Maka, tak heran bila para generasi kedua sangat serius dalam mempersiapkan anak-anaknya.

Persaingan juga tak hanya terjadi dengan perusahaan-perusahaan dari luar negeri. Di dalam negeri pun persaingan dengan sesama perusahaan lokal tak kalah sengitnya. GarudaFood, misalnya, bakal bersaing keras dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk., PT Siantar Top Tbk., atau Grup Mayora. Dari luar, perusahaan-perusahaan ini juga masih harus menghadapi serbuan produk fast moving consumer goods (FMCG) dari China.

Kemenangan, salah satunya, akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam melakukan ekspansi. Dari mana modalnya? Kalau hanya mengandalkan dana dari dalam perusahaan, jelas mereka akan sulit bersaing. Maka, go public menjadi salah satu alternatif mereka dalam memperoleh pendanaan untuk ekspansi.

GarudaFood, misalnya, sudah berancang-ancang ke sana. “Suatu saat kami juga mesti go public,” ungkap Sudhamek, serius. Cuma, langkah ke sana mesti dipersiapkan secara matang dan tidak terburu-buru. “Kami tidak mau kelak saham kami hanya menjadi saham tidur,” lanjut putra bungsu Darmo Putro, pendiri GarudaFood itu. Nah, pada sebagian perusahaan, go public ini bakal menjadi urusan dari generasi ketiga.

***

Lantas, bagaimana mereka menyiapkan generasi ketiganya? Ada berbagai model yang diterapkan. Secara umum polanya begini. Pertama, mayoritas generasi kedua perusahaan keluarga membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang memadai. Mereka mengirim generasi ketiganya untuk menempuh pendidikan S1 atau S2 di universitas unggulan di luar negeri.

Anthoni Salim, Presdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk. dan kini memimpin Grup Salim, misalnya, mengirimkan putra keduanya, Axton Salim, untuk belajar administrasi bisnis di University of Colorado, Amerika Serikat. Lalu, keponakan Anthoni, Daniel Halim—putra kedua Andre Halim, adik Anthoni, belajar di jurusan keuangan, California State University, AS.

Di Grup Lippo, ada Michael Riady, anak tertua Andrew Riady, yang menamatkan kuliahnya dan meraih gelar MBA di California State University dan National University of Singapore. Sementara, anak kedua James Riady, yakni John Riady, memilih mendalami ilmu ekonomi dan politik di Georgetown University, serta keuangan di The Wharton School, University of Pennsylvania.

Di Grup Sinar Mas, ada Fuganto Wijaya yang mendalami ilmu komputer dan ekonomi di Cornell University dan Cambridge University, AS. Kemudian, di Grup Bakrie, Anindya Bakrie yang anak sulung dari Aburizal Bakrie, disekolahkan di Nothwestern University dan School of Business Stanford.

Daftar ini masih bisa lebih panjang lagi. Di PT Intiland Development Tbk., sebuah perusahaan properti yang merupakan anak usaha Grup Dharmala, ada nama Utama Gondokusumo, putra pertama dari Hendro Gondokusumo. Hendro adalah pemilik perusahaan itu dan kini menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris Intiland. Sebelum bergabung dengan perusahaan ayahnya, Utama menamatkan kuliahnya di Purdue University, AS.

Di kelompok usaha Grup Keris, yang di antaranya mengelola bisnis tekstil (batik), generasi ketiganya, yakni Denise Tjokrosaputro, mengenyam pendidikan di dua kampus, yakni George Washington University dan Philadelphia University. Semua universitas tadi berada di AS.

Di luar negeri, para generasi ketiga tersebut bukan cuma menimba ilmu, tapi belajar agar menjadi lebih disiplin dan mandiri. Michael Riady menuturkan, betapa selama delapan tahun belajar di Negeri Paman Sam, ia harus tinggal di asrama dan transporasinya selama di kampus adalah sepeda bekas. “Bahkan uang jajan saya juga pas-pasan. Selama delapan tahun tidak ada kenaikan sama sekali,” kenangnya. Di asrama, dia harus mencuci bajunya sendiri.

Meski begitu, Michael bersyukur atas kesempatan yang diberikan keluarganya. Pengalaman ini membuatnya merasa bahwa hidup tidak selamanya serba enak. Di asrama pula ia belajar bersosialisasi dengan banyak orang, mulai dari orang Indonesia, Amerika, Filipina, Meksiko dan lainnya.

Pola kedua yang banyak mereka tempuh adalah setelah menamatkan kuliahnya di luar negeri, generasi ketiganya tidak langsung dipanggil pulang ke Tanah Air, melainkan diperintahkan untuk menimba pengalaman kerja di beberapa perusahaan di luar negeri. Rata-rata mereka akan bekerja selama kurang lebih 2 sampai 5 tahun.

Michael Jackson Purwanto Widjaja pernah menjadi karyawan di Top Tier Trading dan EuroRev Inc. di Los Angeles, AS, sebelum kembali ke Indonesia. Kini, cucu Eka Tjipta Widjaja (pendiri Grup Sinarmas) dan putra dari Muktar Widjaja itu menduduki posisi penting di perusahaan keluarga, yakni sebagai Vice President Director Asia Food & Property Ltd.

Contoh lainnya Anindya Bakrie, 36, anak tertua Aburizal Bakrie. Sebelum ditarik ke Grup Bakrie, dia mengawali kariernya di Salomon Smith Barney Inc., New York, AS. Begitu pula Axton Salim pernah menimba pengalaman kerja di perusahaan Credit Suisse, Singapura. Juga Michael Riady, 29, pernah bekerja di tiga perusahaan di California. Kemudian saudara Michael, John Riady, pernah bekerja sebagai bankir di Stephen Inc., Little Rock-Arkansas, AS.

Mengapa mereka diminta bekerja dulu di perusahaan di luar negeri? Ini bagian dari proses pembelajaran, upaya meningkatkan kompetensi dan sekaligus memperluas network mereka. Selain itu, mereka kelak diharapkan juga bisa menerapkan standar kerja dari perusahaan multinasional tersebut ke perusahaan keluarganya. Ada satu lagi yang tidak terungkap adalah dengan sempat bekerja di perusahaan multinasional di luar negeri, ini akan memberikan legitimasi bagi sang generasi ketiga ketika kelak masuk ke perusahaan keluarga.

Namun, ada juga generasi ketiga yang langsung pulang ke Tanah Air, dan diminta langsung bekerja di perusahaan keluarga. Ini dialami oleh Noni Sri Aryati Purnomo, Vice President Business Development Blue Bird Group (BBG). Ia bercerita begini, “Begitu lulus MBA tahun 1997, saya ditawari bekerja di Johnson & Johnson, AS. Saya senang sekali dan sudah mempersiapkan segalanya. Pokoknya tinggal berangkat. Eh, tiba-tiba nenek menelepon, meminta saya membatalkan itu semua dan tetap di Indonesia untuk membesarkan Blue Bird. Saya sempat down dan kecewa sekali, tapi saya turuti karena nenek pasti sudah memikirkannya dengan matang.” Noni lulus S2 dalam bidang keuangan dan marketing dari University of San Francisco, AS. Neneknya, Mutiara Djokosoetono, adalah pendiri Blue Bird yang kini menjadi perusahaan taksi terbesar di Indonesia.

Pola ketiga adalah meski mereka sudah bersekolah di luar negeri dan sempat bekerja di perusahaan multinasional, mereka tak langsung mengisi posisi-posisi puncak di perusahaan keluarga. Noni Purnomo mengalaminya. Ia sudah bekerja di BBG sejak SMA, sebagai staf data entry. Setamat kuliah di AS tadi, dia bekerja sebagai supervisor, tidak langsung di posisi manajerial.

Hal serupa dialami oleh Axton Salim, Michael Riady dan sejumlah generasi ketiga lainnya. Axton, 30 tahun, kini menjabat sebagai assistant to CEO PT Indofood Sukses Makmur Tbk., mendampingi sang ayah. Sebelum sampai pada posisinya yang sekarang, selama dua tahun ia bekerja sebagai manajer pemasaran di PT Indofood Fritolay Makmur.

Setelah empat tahun bekerja di AS—terakhir di Kantor Pengacara Mannat, Phelps & Phillips di Los Angeles, California, sebagai real estate associate, Michael Riady pulang ke Indonesia dan ditugasi menjadi General Manager Retail Casual Leasing. Di sini tugasnya adalah mengelola dan memasarkan area-area dan kios-kios yang belum terjual, yang ada di mal milik Grup Lippo. Selama dua tahun menangani urusan leasing, Michael pun ditunjuk untuk mengelola proyek-proyek properti Grup Lippo. Di antaranya, Kemang Village dan St. Moritz.

Begitulah, setelah dinilai siap baik skill, mental maupun kepemimpinannya, tibalah saatnya mereka ditempatkan pada posisi stategis. Patricia Susanto, General Manager Business Development of The Jakarta Consulting Group yang juga pemerhati family business di Indonesia, mencatat, rotasi dari satu posisi ke posisi yang lain, hingga posisi strategis itu, biasanya memakan waktu mulai dari 1-2 tahun hingga paling lama 10 tahun. “Mereka dirotasi di berbagai posisi sejak awal untuk melihat ke arah mana kecenderungannya dan di mana potensinya,” ujar Patricia, yang putri dari AB Susanto itu.

Keempat, setelah belajar dengan mengelola unit-unit bisnis yang ada di kelompok usahanya, mereka pun mulai memperoleh bimbingan langsung dari CEO atau orang kedua setelah pucuk pimpinan. Ini dialami oleh cucu-cucu Eka Tjipta Widjaja di Grup Sinarmas. Mereka kini tengah dibimbing oleh Gandi Sulistiyanto, Managing Director Grup Sinarmas. “Saya memang ditugaskan untuk membimbing generasi ketiga, agar mereka memahami sejarah dan filosofi perusahaan, serta bisa mempertahankan eksistensi grup ini,” tutur Gandi.

Di BBG, urusan membimbing Noni Purnomo dan adik-adiknya diserahkan kepada Handang Agusni, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presdir. Posisi Presdir dijabat oleh Purnomo Prawiro, ayah Noni.

Meski begitu, Patricia Susanto mengungkapkan bahwa semangat juang para generasi ketiga sangat kontras dengan yang dimiliki kakek-nenek maupun orang tuanya, karena sejak kecil mereka terbiasa hidup serba berkecukupan atau bergelimang kemewahan. “Sehingga mereka kurang tough atau tahan banting dengan tantangan dan kompleksitas persoalan,” tegasnya.

Betulkah? Kalau melihat cara mereka ditempa, dan menempa diri, seloroh Patricia mungkin agak berlebihan. [dimuat di majalah Fortune Indonesia, edisi 5 Oktober 2010].

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.