<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dhorifi Zumar's Worldview</title>
	<atom:link href="http://dzumar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dzumar.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Jul 2011 02:36:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dzumar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dhorifi Zumar's Worldview</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dzumar.wordpress.com/osd.xml" title="Dhorifi Zumar&#039;s Worldview" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dzumar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kiat Mereka Menempa Generasi Ketiga</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/10/22/kiat-mereka-menempa-generasi-ketiga/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/10/22/kiat-mereka-menempa-generasi-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 01:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family Business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Ke depan, persaingan bisnis bakal semakin cadas. Ini dia yang dilakukan perusahaan-perusahaan keluarga dalam menempa generasi ketiganya: kirim sekolah ke luar negeri, biarkan mencari kerja di sana, tugaskan mengelola proyek khusus atau unit bisnis, dan serahkan CEO untuk membimbing. “Saya sangat serius mempersiapkan masa depan anak-anak saya. Saya mau anak saya kelak menjadi aset, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=381&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/10/07nonibl.gif"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/10/07nonibl.gif?w=150&#038;h=112" alt="" title="07nonibl" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-383" /></a>Ke depan, persaingan bisnis bakal semakin cadas. Ini dia yang dilakukan perusahaan-perusahaan keluarga dalam menempa generasi ketiganya: kirim sekolah ke luar negeri, biarkan mencari kerja di sana, tugaskan mengelola proyek khusus atau unit bisnis, dan serahkan CEO untuk membimbing.<br />
<span id="more-381"></span></p>
<p>“Saya sangat serius mempersiapkan masa depan anak-anak saya. Saya mau anak saya kelak menjadi aset, dan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun perusahaan.” Ungkapan itu dilontarkan Sudhamek Agung WS, CEO Tudung Group (GarudaFood), kepada Fortune Indonesia. Sudhamek adalah generasi kedua di Tudung Group. </p>
<p>Maka, Sudhamek pun mengirimkan tiga anaknya bersekolah di luar negeri. Anak pertama Sudhamek, yakni Adhitya Eka Putera Soenjoto, 26, kuliah S1 jurusan ekonomi di University of Michigan, Ann Arbor, dan S2 jurusan kewirausahaan di Babson University, Boston, keduanya di AS. Aditya sudah menamatkan kuliahnya dan pernah bekerja di perusahaan Ernst &amp; Young Hongkong. Anak kedua, Yudie Tirta Prawira Soenjoto, 21, masih kuliah S1 di University of Michigan. Lalu, yang bungsu, Henny Nirmala Soenjoto, 17, masih kuliah di Lassale Collage of Art di Singapura. </p>
<p>Keseriusan serupa juga terjadi di Grup Salim. Kesaksian ini datang dari Gunadi Sindhuwinata, CEO Indomobil Group. Indomobil adalah salah satu grup usaha yang berada di bawah naungan Grup Salim, yang kini dikelola oleh Anthoni Salim. “Saya sangat tahu bagaimana Anthoni Salim membekali dan menjadi mentor bagi anak-anaknya, dengan harapan kelak mereka memiliki bekal yang memadai untuk memimpin perusahaan,” ungkap Gunadi.</p>
<p>Ketiga anak Anthoni tersebut, menurut Gunadi, adalah Astrid, Axton, dan Excel. “Mereka mulai ditempatkan di beberapa unit bisnis, agar terbiasa menghadapi kompleksitas persoalan bisnis dan mampu mencarikan jalan keluarnya,” tutur Gunadi. </p>
<p>Ke depan, bisnis memang semakin kompleks dan kian sulit diprediksi. Ini diakui oleh Henri Honoris, President Director PT Modern Putra Indonesia dan Direktur PT Modern Internasional Tbk., generasi ketiga yang kini mengelola bisnis Modern Group. “Saya akan menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Tak ada yang bisa memprediksi hari esok. Kami susah menebak ke arah mana tren konsumen. Perkembangan teknologi, adanya internet, facebook, atau twitter, juga bisa membuat selera konsumen makin cepat berubah. Jadi, kami harus cepat belajar dan mengikut kemauan pasar,” kata Henri, panjang lebar. </p>
<p>Henri benar. Persaingan bisnis bakal semakin sengit, terlebih lima-sepuluh tahun ke depan. Saat ini di depan mata sudah ada era ASEAN Free Trade Area (AFTA), lalu CAFTA (perdagangan bebas ASEAN+China). Ke depan, era perdagangan bebas dunia sudah menunggu. Persaingan bakal semakin tajam bila perjanjian perdagangan bebas antarblok ekonomi disepakati. Misalnya, antara ASEAN dan India maupun dengan blok ekonomi lainnya. Maka, tak heran bila para generasi kedua sangat serius dalam mempersiapkan anak-anaknya.</p>
<p>Persaingan juga tak hanya terjadi dengan perusahaan-perusahaan dari luar negeri. Di dalam negeri pun persaingan dengan sesama perusahaan lokal tak kalah sengitnya. GarudaFood, misalnya, bakal bersaing keras dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk., PT Siantar Top Tbk., atau Grup Mayora. Dari luar, perusahaan-perusahaan ini juga masih harus menghadapi serbuan produk <em>fast moving consumer goods </em>(FMCG) dari China.  </p>
<p>Kemenangan, salah satunya, akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam melakukan ekspansi. Dari mana modalnya? Kalau hanya mengandalkan dana dari dalam perusahaan, jelas mereka akan sulit bersaing. Maka, <em>go public </em>menjadi salah satu alternatif mereka dalam memperoleh pendanaan untuk ekspansi. </p>
<p>GarudaFood, misalnya, sudah berancang-ancang ke sana. “Suatu saat kami juga mesti <em>go public,</em>” ungkap Sudhamek, serius. Cuma, langkah ke sana mesti dipersiapkan secara matang dan tidak terburu-buru. “Kami tidak mau kelak saham kami hanya menjadi saham tidur,” lanjut putra bungsu Darmo Putro, pendiri GarudaFood itu.  Nah, pada sebagian perusahaan, <em>go public </em>ini bakal menjadi urusan dari generasi ketiga.</p>
<p>						***</p>
<p>Lantas, bagaimana mereka menyiapkan generasi ketiganya? Ada berbagai model yang diterapkan. Secara umum polanya begini. <strong>Pertama, </strong>mayoritas generasi kedua perusahaan keluarga membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang memadai. Mereka mengirim generasi ketiganya untuk menempuh pendidikan S1 atau S2 di universitas unggulan di luar negeri.</p>
<p>Anthoni Salim, Presdir PT Indofood Sukses Makmur Tbk. dan kini memimpin  Grup Salim, misalnya, mengirimkan putra keduanya, Axton Salim, untuk belajar administrasi bisnis di University of Colorado, Amerika Serikat. Lalu, keponakan Anthoni, Daniel Halim—putra kedua Andre Halim, adik Anthoni, belajar di jurusan keuangan, California State University, AS.</p>
<p>Di Grup Lippo, ada Michael Riady, anak tertua Andrew Riady, yang menamatkan kuliahnya dan meraih gelar MBA di California State University dan National University of Singapore. Sementara, anak kedua James Riady, yakni John Riady, memilih mendalami ilmu ekonomi dan politik di Georgetown University, serta keuangan di The Wharton School, University of Pennsylvania. </p>
<p>Di Grup Sinar Mas, ada Fuganto Wijaya yang mendalami ilmu komputer dan ekonomi di Cornell University dan Cambridge University, AS. Kemudian, di Grup Bakrie, Anindya Bakrie yang anak sulung dari Aburizal Bakrie, disekolahkan di Nothwestern University dan School of Business Stanford. </p>
<p>Daftar ini masih bisa lebih panjang lagi. Di PT Intiland Development Tbk., sebuah perusahaan properti yang merupakan anak usaha Grup Dharmala, ada nama Utama Gondokusumo, putra pertama dari Hendro Gondokusumo. Hendro adalah pemilik perusahaan itu dan kini menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris Intiland. Sebelum bergabung dengan perusahaan ayahnya, Utama menamatkan kuliahnya di Purdue University, AS.</p>
<p>Di kelompok usaha Grup Keris, yang di antaranya mengelola bisnis tekstil (batik), generasi ketiganya, yakni Denise Tjokrosaputro, mengenyam pendidikan di dua kampus, yakni George Washington University dan Philadelphia University. Semua universitas tadi berada di AS.</p>
<p>Di luar negeri, para generasi ketiga tersebut bukan cuma menimba ilmu, tapi belajar agar menjadi lebih disiplin dan mandiri. Michael Riady menuturkan, betapa selama delapan tahun belajar di Negeri Paman Sam, ia harus tinggal di asrama dan transporasinya selama di kampus adalah sepeda bekas. “Bahkan uang jajan saya juga pas-pasan. Selama delapan tahun tidak ada kenaikan sama sekali,” kenangnya. Di asrama, dia harus mencuci bajunya sendiri. </p>
<p>Meski begitu, Michael bersyukur atas kesempatan yang diberikan keluarganya. Pengalaman ini membuatnya merasa bahwa hidup tidak selamanya serba enak. Di asrama pula ia belajar bersosialisasi dengan banyak orang, mulai dari orang Indonesia, Amerika, Filipina, Meksiko dan lainnya.</p>
<p><strong>Pola kedua </strong>yang banyak mereka tempuh adalah setelah menamatkan kuliahnya di luar negeri, generasi ketiganya tidak langsung dipanggil pulang ke Tanah Air, melainkan diperintahkan untuk menimba pengalaman kerja di beberapa perusahaan di luar negeri. Rata-rata mereka akan bekerja selama kurang lebih 2 sampai 5 tahun.</p>
<p>Michael Jackson Purwanto Widjaja pernah menjadi karyawan di Top Tier Trading dan EuroRev Inc. di Los Angeles, AS, sebelum kembali ke Indonesia. Kini, cucu Eka Tjipta Widjaja (pendiri Grup Sinarmas) dan putra dari Muktar Widjaja itu  menduduki posisi penting di perusahaan keluarga, yakni sebagai Vice President Director Asia Food &amp; Property Ltd.</p>
<p>Contoh lainnya Anindya Bakrie, 36, anak tertua Aburizal Bakrie. Sebelum ditarik ke Grup Bakrie, dia mengawali kariernya di Salomon Smith Barney Inc., New York, AS. Begitu pula Axton Salim pernah menimba pengalaman kerja di perusahaan Credit Suisse, Singapura. Juga Michael Riady, 29, pernah bekerja di tiga perusahaan di California. Kemudian saudara Michael, John Riady, pernah bekerja sebagai bankir di Stephen Inc., Little Rock-Arkansas, AS.</p>
<p>Mengapa mereka diminta bekerja dulu di perusahaan di luar negeri? Ini bagian dari proses pembelajaran, upaya meningkatkan kompetensi dan sekaligus memperluas network mereka. Selain itu, mereka kelak diharapkan juga bisa menerapkan standar kerja dari perusahaan multinasional tersebut ke perusahaan keluarganya. Ada satu lagi yang tidak terungkap adalah dengan sempat bekerja di perusahaan multinasional di luar negeri, ini akan memberikan legitimasi bagi sang generasi ketiga ketika kelak masuk ke perusahaan keluarga. </p>
<p>Namun, ada juga generasi ketiga yang langsung pulang ke Tanah Air, dan diminta langsung bekerja di perusahaan keluarga. Ini dialami oleh Noni Sri Aryati Purnomo, Vice President Business Development Blue Bird Group (BBG). Ia bercerita begini, “Begitu lulus MBA tahun 1997, saya ditawari bekerja di Johnson &amp; Johnson, AS. Saya senang sekali dan sudah mempersiapkan segalanya. Pokoknya tinggal berangkat. Eh, tiba-tiba nenek menelepon, meminta saya membatalkan itu semua dan tetap di Indonesia untuk membesarkan Blue Bird. Saya sempat down dan kecewa sekali, tapi saya turuti karena nenek pasti sudah memikirkannya dengan matang.” Noni lulus S2 dalam bidang keuangan dan marketing dari University of San Francisco, AS. Neneknya, Mutiara Djokosoetono, adalah pendiri Blue Bird yang kini menjadi perusahaan taksi terbesar di Indonesia.   </p>
<p><strong>Pola ketiga </strong>adalah meski mereka sudah bersekolah di luar negeri dan sempat bekerja di perusahaan multinasional, mereka tak langsung mengisi posisi-posisi puncak di perusahaan keluarga. Noni Purnomo mengalaminya. Ia sudah bekerja di BBG sejak SMA, sebagai staf data entry. Setamat kuliah di AS tadi, dia bekerja sebagai supervisor, tidak langsung di posisi manajerial.</p>
<p>Hal serupa dialami oleh Axton Salim, Michael Riady dan sejumlah generasi ketiga lainnya. Axton, 30 tahun, kini menjabat sebagai <em>assistant to CEO </em>PT Indofood Sukses Makmur Tbk., mendampingi sang ayah. Sebelum sampai pada posisinya yang sekarang, selama dua tahun ia bekerja sebagai manajer pemasaran di PT Indofood Fritolay Makmur. </p>
<p>Setelah empat tahun bekerja di AS—terakhir di Kantor Pengacara Mannat, Phelps &amp; Phillips di Los Angeles, California, sebagai <em>real estate associate, </em>Michael Riady pulang ke Indonesia dan ditugasi menjadi General Manager Retail Casual Leasing. Di sini tugasnya adalah mengelola dan memasarkan area-area dan kios-kios yang belum terjual, yang ada di mal milik Grup Lippo. Selama dua tahun menangani urusan leasing, Michael pun ditunjuk untuk mengelola proyek-proyek properti Grup Lippo. Di antaranya, Kemang Village dan St. Moritz. </p>
<p>Begitulah, setelah dinilai siap baik <em>skill, </em>mental maupun kepemimpinannya, tibalah saatnya mereka ditempatkan pada posisi stategis. Patricia Susanto, General Manager Business Development of The Jakarta Consulting Group yang juga pemerhati <em>family business </em>di Indonesia, mencatat, rotasi dari satu posisi ke posisi yang lain, hingga posisi strategis itu, biasanya memakan waktu mulai dari 1-2 tahun hingga paling lama 10 tahun. “Mereka dirotasi di berbagai posisi sejak awal untuk melihat ke arah mana kecenderungannya dan di mana potensinya,” ujar Patricia, yang putri dari AB Susanto itu.</p>
<p><strong>Keempat, </strong>setelah belajar dengan mengelola unit-unit bisnis yang ada di kelompok usahanya, mereka pun mulai memperoleh bimbingan langsung dari CEO atau orang kedua setelah pucuk pimpinan. Ini dialami oleh cucu-cucu Eka Tjipta Widjaja di Grup Sinarmas. Mereka kini tengah dibimbing oleh Gandi Sulistiyanto, Managing Director Grup Sinarmas. “Saya memang ditugaskan untuk membimbing generasi ketiga, agar mereka memahami sejarah dan filosofi perusahaan, serta bisa mempertahankan eksistensi grup ini,” tutur Gandi.</p>
<p>Di BBG, urusan membimbing Noni Purnomo dan adik-adiknya diserahkan kepada Handang Agusni, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presdir. Posisi Presdir dijabat oleh Purnomo Prawiro, ayah Noni.</p>
<p>Meski begitu, Patricia Susanto mengungkapkan bahwa semangat juang para generasi ketiga sangat kontras dengan yang dimiliki kakek-nenek maupun orang tuanya, karena sejak kecil mereka terbiasa hidup serba berkecukupan atau bergelimang kemewahan. &#8220;Sehingga mereka kurang <em>tough </em>atau tahan banting dengan tantangan dan kompleksitas persoalan,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Betulkah? Kalau melihat cara mereka ditempa, dan menempa diri, seloroh Patricia mungkin agak berlebihan. [dimuat di majalah <em>Fortune Indonesia, </em>edisi 5 Oktober 2010]. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=381&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/10/22/kiat-mereka-menempa-generasi-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/10/07nonibl.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">07nonibl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Panjang Mobil China</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/09/11/jalan-panjang-mobil-china/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/09/11/jalan-panjang-mobil-china/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 07:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Automotive]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Sejak 2006 mobil-mobil China masuk pasar nasional. Ada 4 merek yang unjuk gigi di sini, yaitu Chery, Foton, Geely dan Great Wall. Mereka berambisi menjadikan Indonesia sebagai pasar strategisnya. Dwi Juliantono, warga Depok yang juga pengusaha bahan kimia, sudah dua tahun memakai mobil Chery Tiggo. Membeli mobil jenis sport utility vehicle (SUV) itu pada 2008, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=377&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/09/geely-panda.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/09/geely-panda.jpg?w=150&#038;h=98" alt="" title="IB_S_BASIC_COPYRIGHT =" width="150" height="98" class="alignleft size-thumbnail wp-image-378" /></a>Sejak 2006 mobil-mobil China masuk pasar nasional. Ada 4 merek yang unjuk gigi di sini, yaitu Chery, Foton, Geely dan Great Wall. Mereka berambisi menjadikan Indonesia sebagai pasar strategisnya.<br />
<span id="more-377"></span></p>
<p>Dwi Juliantono, warga Depok yang juga pengusaha bahan kimia, sudah dua tahun memakai mobil Chery Tiggo. Membeli mobil jenis <em>sport utility vehicle (SUV) </em>itu pada 2008, Dwi mengaku puas dengan kinerjanya. Ia pernah mengendarainya dengan kecepatan 150 kilometer per jam dan tetap stabil. Ia juga pernah membawa mobil itu dari Depok ke Semarang menempuh jarak 430-an kilometer, yang lantaran macet dan di mobilnya ada bayi, AC-nya pun dihidupkan selama 24 jam. Ternyata, temperaturnya juga tidak naik. </p>
<p>Kini, Chery Tiggo milik Dwi sudah menempuh jarak 59.000-an kilometer dan sampai sekarang belum pernah mengalami kerusakan yang berarti, kecuali memang secara berkala mesti dirawat di bengkel. “Kecepatannya juga masih OK,” ucap Dwi. Masih ada kelebihan lain dari mobil Dwi yang bermesin semi turbo dan memakai rem <em>anti blocking system, </em>yakni konsumsi bahan bakarnya irit. Setiap liter premium seharga Rp4.500 mampu dipakai menempuh jarak 14,5 kilometer. </p>
<p>Chery Tiggo milik Dwi juga pintar. Setiap usai menempuh jarak 5.000 kilometer dan kelipatannya, pada panel instrumen di <em>dashboard </em>akan tampil sinyal berupa gambar kunci. Ini pertanda mobil minta di-servis. Dwi juga mengagumi kualitas fisik mobilnya. Setiap hari mobil itu ia taruh di tempat terbuka, terkena panas dan hujan. Namun, kata Dwi, kualitas cat mobilnya masih baik.  </p>
<p>***</p>
<p>Chery adalah salah satu merek mobil buatan China yang belakangan terus merangsek pasar otomotif Indonesia. Ada dua tipe Chery yang dipasarkan di sini, yakni Chery QQ dan Chery Tiggo. Chery QQ adalah jenis city car seharga Rp92 juta-100 juta, sementara Chery Tiggo terbaru dijual dengan harga Rp177 juta-184 juta. Sosok Chery Tiggo ini mirip Honda CRV, tapi harganya berbeda jauh. Di sini, Honda CRV dijual seharga Rp350-an juta. </p>
<p>Akankah Chery melaju mulus di pasar mobil Indonesia? Tan Kim Piauw, CEO PT Chery Indomobil, salah satu dealer mobil Chery, yakin kalau bicara soal kualitas, meski harganya murah, mobil China terbilang baik. Hanya, saat ini pihaknya memang masih menghadapi stigma yang terlanjur melekat di benak masyarat, yakni produk apa pun yang dibuat China, kualitasnya jelek. “Ini tantangan buat kami,” tandas Tan. </p>
<p>Untuk itu Tan membutuhkan waktu dua tahun guna mengedukasi pasar. Pada tahun pertama, konsumen memang masih ragu dan takut membeli. Namun, pada tahun kedua mereka sudah mulai berani membeli. “Asal tahu saja, untuk harga yang sama dengan mobil buatan negara lain, mobil China selalu memberi lebih. Dengan harga yang sama, mobil lain belum memakai <em>power window, </em>mobil China sudah,” tuturnya. Saat ini dalam setahun Tan rata-rata bisa menjual 60 unit Chery.</p>
<p>Dari dua tipe Chery, Chery QQ paling diminati konsumen lantaran harganya yang murah. Mobil mungil dan irit bahan bakar ini menyasar konsumen yang baru pertama kali membeli mobil. </p>
<p>Chery adalah mobil China yang didatangkan Indomobil Group melalui PT Unicor Prima Motor (UPM). Dua merek lain yang juga didatangkan Indomobil adalah Great Wall (melalui PT Wahana Inti Central Mobilindo), dan Foton kategori II (PT Indobuana Autoraya). “Investasi kami tak main-main. Kami pertaruhkan reputasi Indomobil,” ucap Gunadi Sindhuwinata, Presdir Indomobil Group, yang mengaku mengucurkan dana Rp5 miliar untuk menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mobil China.</p>
<p>Kata Gunadi, banyak hal yang ia pertimbangkan sebelum Indomobil menjadi ATPM mobil China. “Kami berkali-kali ke China dan meninjau langsung pabriknya,” tutur Gunadi. Prosesnya pun sampai memakan waktu 2-3 tahun. Ini mengingat stigma produk sepeda motor China yang gagal di sini lantaran layanan purna jual yang tidak memadai. Setelah melalui proses itu, Indomobil yakin mobil China layak dipasarkan di sini. Alasannya, papar Gunadi, industri mobil China memiliki tim <em>engineering </em>dan tim teknologi yang kuat, manajemennya tertata rapi, serta punya <em>networking </em>internasional. “Itu makin memantapkan tekad kami,” katanya. </p>
<p>Keputusan Indomobil tak meleset. Baru beberapa tahun berjalan dan punya 13 dealer, selama 2009 Indomobil berhasil menjual 1.000 unit Chery QQ. Angka 1.000 ini dianggap sebagai barometer sukses sebuah produk baru. Untuk 2010, mereka menargetkan menjual 2.000 unit dari tiga merek mobil China. Perinciannya 60% Chery, sisanya Foton dan Great Wall.</p>
<p>Sukses itu tak lepas dari strategi marketing Indomobil yang memilih mendekati langsung target konsumen. Contohnya, untuk Foton dan Great Wall, Indomobil mendekati langsung calon konsumen yang bergerak di bisnis penyediaan armada angkutan. “Jadi kami menyasar target yang jelas,” cetus Gunadi.  </p>
<p>***</p>
<p>Di ajang <em>Indonesia International Motor Show </em>(IIMS) ke-18 yang digelar 23 Juli-1 Agustus 2010, mobil China unjuk gigi. Satu merek, yaitu Foton, tampil di pameran itu. Kehadiran Foton mengirimkan sinyal kuat bahwa mobil-mobil China memang siap bersaing dengan produk otomotif dari negara-negara lain.</p>
<p>Foton didatangkan oleh PT Foton Mobilindo, anak usaha Modern Group, yang menjadi distributor tunggal mobil China sejak 2008. Masuknya Foton ke sini berkat peran James Hartono, generasi ke-2 di Modern Group. James, kini Presdir PT Foton Mobilindo, memiliki bisnis di China dan banyak berhubungan dengan pengusaha di sana. Ia juga tahu seluk-beluk industri mobil China. James memilih Foton, karena ia tahu kualitas mobil buatan Beigi Foton Motor Co. Ltd. itu. “Foton Motor berdiri sejak 1996. Mereka mengadopsi teknologi dari beberapa negara, termasuk Steiser dari Austria,” ungkap Bravyanto Wisjnu, General Manager Foton Mobilindo.</p>
<p>Wang Xiangyin, Vice President Foton Motor Group, prinsipal mobil Foton, yang berkunjung ke ajang IIMS 2010, memilih pasar Indonesia karena tiga alasan. Pertama, beberapa tahun terakhir ekonomi Indonesia tumbuh positif dan stabil. Kedua, pendapatan per kapita menembus US$2.000. Ketiga, jumlah penduduknya yang banyak. “Tiga hal itu yang membuat Indonesia lebih menarik ketimbang negara-negara ASEAN lainnya,” kata Wang.</p>
<p>Sampai 2009, Foton Mobilindo telah menjual 100 unit mobil. Pertama masuk pasar Indonesia, Foton Mobilindo menawarkan varian Multi Purpose Vehicle (MPV), yaitu Foton View XLC (Xtra Large Cabin) yang merupakan passenger car. Mobil bermesin diesel 2.800 cc turbo ini diminati biro-biro perjalanan. Setelah itu Foton Mobilindo memasukkan Auman Truk dan Auman Trucktor, truk kategori V atau <em>heavy duty. </em>Kendaraan-kendaraan itu dibawa ke pasar Indonesia secara terurai dan dirakit di PT Gaya Motor, PT New Armada untuk karoseri, dan penyempurnaan di PT Tugas Anda. </p>
<p>Untuk truk <em>heavy duty  </em>dipasarkan ke Sumatera dan Kalimantan, yang memiliki banyak area pertambangan dan perkebunan. Di sana, tambang batubara kian jauh dari sungai dan laut, sehingga membutuhkan jenis angkutan truk besar. “Di sana permintaannya sangat tinggi,” kata Bravyanto Wisjnu.</p>
<p>Pada kuartal III-2010, Foton Mobilindo akan menawarkan produk baru low MPV, yakni Midi. Untuk tahap awal, Midi akan diimpor secara utuh (<em>completely built-up, </em>CBU) dari China dan ditawarkan dengan harga Rp100-an juta per unit. Di negara asalnya, Midi diluncurkan sejak 2006 dengan kapasitas mesin 1.300 cc dan 1.500 cc. Untuk pasar Indonesia yang akan masuk adalah varian 1.300 cc. Selain itu, Foton juga akan memasukkan MPX, produk MPV untuk pasar premium. MPX bermesin 2.400 cc dan dijual dengan harga Rp200 juta per unit, <em>off the road. </p>
<p></em><br />
Selama 2010, pihak Foton menargetkan penjualan 1.000 unit atau meroket 455,5% dari tahun lalu. Pada 2013 mereka memperkirakan penjualan 10.000 unit per tahun. Untuk itu mereka akan mulai membangun 9 showroom di seluruh Indonesia dan menyiapkan layanan purna jual serta ketersediaan suku cadang. </p>
<p>Masih ada lagi PT Geely Mobil Indonesia (GMI), yang menghadirkan mobil China merek Geely. Sebetulnya, Geely masuk ke Indonesia sejak 2006 dan sempat berkongsi dengan Suhaeli Kalla, adik mantan Wapres Jusuf Kalla. Tapi, kerja sama itu hanya berjalan beberapa bulan. Geely akhirnya hengkang ke Malaysia pada 2007. Di sana, karena takut akan menyaingi pasar Proton, Pemerintah Malaysia tak mengeluarkan izin usaha. Maka, pada 2009 mereka kembali ke Indonesia.</p>
<p>Geely masuk ke Indonesia dengan menggandeng A. Budi Pramono, mantan eksekutif Astra Group. “Saya mendapatkan porsi saham 5%,” ungkap Budi Pramono, yang menjadi Presdir PT Geely Mobil Indonesia. Geely masuk dalam bentuk CKD dan dirakit di PT Gaya Motor. Ada dua model mobil Geely, yaitu MK (sedan) dan MK2 (hatchback), masing-masing dengan beberapa variannya. Harganya Rp135 juta-150 juta. Hingga kini model MK dan MK2 sudah terjual 300 unit.    </p>
<p>Sebagai pendatang baru, Geely tidak langsung menggarap pasar Jakarta. Mereka menyasar Surabaya dan Bali. Hasilnya, pasar terbesar Geely saat ini ada di Surabaya (40%). Saat ini Geely memiliki 10 dealer utama di seluruh Indonesia, yaitu Jakarta (2 dealer) dan masing-masing satu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. “Kami targetkan setiap tahun ada penambahan subdealer, sehingga dalam tiga tahun ke depan sudah mencapai 50 lokasi atau kota,” kata Budi Pramono. </p>
<p>***</p>
<p>Tahun 2010 angka penjualan mobil di Indonesia diyakini bakal mencapai 650.000-700.000 unit. Jika tidak meleset, volume penjualan ini bakal yang tertinggi se-ASEAN, mengalahkan Thailand. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, hingga semester I-2010, penjualan mobil nasional sudah menembus 370.243 unit, meningkat 76% dibanding tahun lalu. Sedangkan pada periode yang sama, Thailand hanya 356.693 unit.</p>
<p>Dari pasar itu, 90% dikuasai merek-merek Jepang, 2% merek-merek Korea Selatan, dan 8% sisanya diperebutkan oleh merek-merek dari Eropa maupun Amerika Serikat (AS). Melihat harganya, mobil China tampaknya mengincar pasar mobil Korea Selatan, yang volumenya pada 2010 ini bisa mencapai 14.000 unit per tahun.  </p>
<p>Sudirman MR, Ketua Umum Gaikindo menilai, produk dan penjualan mobil China belum berkembang. “Sebagai pendatang baru, mereka masih perlu waktu untuk melakukan penetrasi pasar,” ujar Sudirman. Selain itu, lanjut dia, konsumen masih dibayang-bayangi kegagalan motor China dahulu. “Sekarang konsumen lebih selektif dan semakin pintar memilih,” tandasnya. Agar sukses, mobil China mesti memperhatikan kualitas produk dan layanan purna jual.</p>
<p>Pengamat otomotif Soehari Sargo juga menilai mobil China masih menjadi barang baru di Indonesia, dan masyarakat belum banyak tahu kualitasnya. Di Indonesia, mobil merupakan barang yang digunakan dalam jangka panjang. “Jadi, sebelum membeli, konsumen butuh waktu untuk melihat performa, dan bagaimana perawatannya,” ucap Soehari. </p>
<p>Kegagalan motor China, ujar Soehari, menjadi contoh yang baik bagi mobil China. Pada kasus motor China, produsennya banyak dari industri rumahan. Ini membuat kualitasnya tak jelas, komponen atau layanan purna jualnya pun sulit. Sedang untuk mobil, para pelakunya telah lama menekuni bisnis ini dan kerap bekerja sama dengan perusahaan otomotif asal Eropa dan AS. Geely, misalnya, bahkan membeli pabrik Volvo. “Dari sisi teknologi, mobil China lebih siap,” simpul Soehari. </p>
<p>Soalnya, tinggal bagaimana membangun pasar mobil China. Ini tidak mudah. Mobil Jepang, misalnya, membutuhkan waktu sekitar 20 tahun sebelum diterima pasar Indonesia. Jadi, jalan masih panjang untuk mobil China. (artikel ini dimuat di <em>Fortune Indonesia, </em>vol.03, Agustus 2010) 	</p>
<p>							***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=377&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/09/11/jalan-panjang-mobil-china/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/09/geely-panda.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IB_S_BASIC_COPYRIGHT =</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bankir yang Banting Setir</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/08/29/bankir-yang-banting-setir/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/08/29/bankir-yang-banting-setir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 14:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Career]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum menjadi motivator ternama, Tung Desem Waringin adalah karyawan PT Bank Central Asia (1992-2000). Kinerja Tung di BCA mengesankan: membuat tiga kantor cabang yang merugi menjadi untung. Bahkan jumlah nasabah BCA Kota Malang dalam dua tahun melonjak 500% dari 20.000-an menjadi 120.000-an. Padahal, ketika itu penduduk Kota Malang hanya 700.000-an. Kinerja itu membuat Tung diincar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=371&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/08/tung-desem-waringin1.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/08/tung-desem-waringin1.jpg?w=91&#038;h=150" alt="" title="tung desem waringin" width="91" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-373" /></a>Sebelum menjadi motivator ternama, Tung Desem Waringin adalah karyawan PT Bank Central Asia (1992-2000). Kinerja Tung di BCA mengesankan: membuat tiga kantor cabang yang merugi menjadi untung. Bahkan jumlah nasabah BCA Kota Malang dalam dua tahun melonjak 500% dari 20.000-an menjadi 120.000-an. Padahal, ketika itu penduduk Kota Malang hanya 700.000-an.<br />
<span id="more-371"></span></p>
<p>Kinerja itu membuat Tung diincar bank-bank dan headhunter. Namun, saat kariernya menanjak, pria kelahiran Solo ini malah berhenti jadi bankir. Ia hijrah ke Lippo Group dan dipercaya menggarap bisnis eceran online lewat LippoShop. Akan tetapi itu pun tak lama. Dua tahun kemudian Tung memutuskan berhenti sebagai profesional dan banting setir menjadi motivator. Mengapa?</p>
<p>Ada dua sebab. Pertama, penghasilan sebagai profesional dirasanya kurang memadai. Kedua, ia tak bisa mengeksekusi ide-idenya lantaran banyak yang ditolak atasan.</p>
<p>Tung terpikat menjadi motivator saat mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura. Kala itu dia tersihir oleh kepiawaian Robbins dalam memotivasi peserta. Maka, ketika tahu motivator ternama itu ingin menggelar seminar di Hawaii pada 11 September 2001, Tung ngotot hadir. Untuk itu, Tung rela menjual tanahnya seluas 528 meter persegi di Malang, Jawa Timur. Seminar yang digelar berbarengan dengan Tragedi 9/11 di New York, AS, itu sungguh memotivasi Tung. </p>
<p>Namun, waktu memulai berbisnis, Tung sempat gamang. Suryani Untoro, istri Tung, baru melahirkan anak kedua. Mereka belum punya rumah dan mobil. Imbuh Tung, “Orang tua juga sedang sakit.” Godaan datang. Ada tawaran kerja dengan gaji lumayan. Namun, Tung kukuh dengan tekadnya. “Modal saya nekad dan berani,” cetus Tung.</p>
<p>Klien pertama Tung adalah Columbia, perusahaan pembiayaan produk furnitur dan elektronik, dan AMA-Indonesia (Asosiasi Manajemen Indonesia). Dari keduanya Tung tak dibayar. Alasannya? “Saya utang budi dengan Leo Chandra, pemilik Columbia. Kalau di AMA kebetulan saya ketuanya,” tutur pria 44 tahun ini, terkekeh. </p>
<p>Lalu, datang klien sesungguhnya, yakni kantor berita Reuters di Jakarta, yang membayar US$2.000 per seminar, dan PT BASF Indonesia dengan tarif sama. (Kini, tarif Tung US$12.000 per seminar.) Sejak itu klien-klien pun berdatangan. Pernah dalam sebulan Tung mendapat order 52 kali. “Sehari dia mengisi acara di tiga kota berbeda, yakni Jakarta, Bandung, dan Surabaya,” tutur Suryani, sang istri. Ada 600-an yang menjadi klien ayah tiga anak itu.</p>
<p>Tung kian bersemangat ketika tahu penjualan klien-kliennya melonjak ratusan persen. Kunci sukses Tung adalah membuat peserta termotivasi. “Jadi bukan cuma tahu, tapi yang terpenting membuat orang berubah menjadi lebih baik,” tandas Tung. </p>
<p>Kini, Tung mengoperasikan TDW Resources yang didirikan tahun 2003 dan punya 23 karyawan. Ia mulai mengurangi aktivitas seminar dan fokus dengan bisnis barunya: properti, toko buku, dan pabrik tabung gas. (dimuat di <em>Fortune Indonesia</em>, vol.01/juli 2010)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=371&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/08/29/bankir-yang-banting-setir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/08/tung-desem-waringin1.jpg?w=91" medium="image">
			<media:title type="html">tung desem waringin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penetrasi Televisi Mengungguli Radio dan Tape Recorder</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/05/11/penetrasi-televisi-mengungguli-radio-dan-tape-recorder/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/05/11/penetrasi-televisi-mengungguli-radio-dan-tape-recorder/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 01:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Electronic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Terus menjamurnya stasiun televisi, terutama televisi lokal di daerah, serta semakin menariknya acara-acara yang ditayangkan menjadikan televisi sebagai media hiburan dan informasi paling murah dan merakyat. Karena itu sangat wajar jika tingkat penjualan (demand) produk televisi untuk saat ini tetap tinggi, melebihi radio/tape recorder dan produk elektronik lainnya. Hasil riset MARS Indonesia mengindikasikan hal itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=355&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/teve.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-356" title="teve" src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/teve.jpg?w=122&#038;h=150" alt="" width="122" height="150" /></a>Terus menjamurnya stasiun televisi, terutama televisi lokal di daerah, serta semakin menariknya acara-acara yang ditayangkan menjadikan televisi sebagai media hiburan dan informasi paling murah dan merakyat. Karena itu sangat wajar jika tingkat penjualan (<em>demand</em>) produk televisi untuk saat ini tetap tinggi, melebihi radio/tape recorder dan produk elektronik lainnya.<br />
<span id="more-355"></span></p>
<p>Hasil riset <strong>MARS Indonesia</strong> mengindikasikan hal itu. Hampir 97% masyarakat yang disurvei di 7 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar) menyatakan telah memiliki pesawat televisi di rumahnya. Artinya, masyarakat telah menjadikan televisi sebagai properti paling berharga di rumah tangga mereka.</p>
<p>Berdasarkan kota, masyarakat di Semarang dan Surabaya terindikasi paling tinggi tingkat kepemilikannya terhadap pesawat televisi daripada kota-kota lainnya, karena hampir 100% di rumah mereka tersedia televisi. Disusul berikutnya masyarakat di Bandung (97,0%), Denpasar (96,7%), baru kemudian Jakarta sebesar 96,2%. Dua kota terbuncit adalah  Makassar (95,0%) dan Medan (94,2%).</p>
<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-357" title="tabel-tv1" src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv1.jpg?w=550&#038;h=200" alt="" width="550" height="200" /></a>Sedangkan dari segi usia, pesawat televisi banyak dimiliki oleh kelompok masyarakat berusia menengah yaitu mulai 30 hingga 39 tahun. Sebaliknya yang paling rendah tingkat kepemilikannya adalah mereka yang berusia relatif tua yaitu antara 45-50 tahun.</p>
<p>Sementara berdasarkan SES, masyarakat di SES A terindikasi paling tinggi penetrasinya dengan porsi 98,4%. Sedangkan yang paling rendah adalah masyarakat di SES D/E dengan porsi hanya 87,9%.</p>
<p>Televisi merek apa yang paling banyak diminati? Lima besar merek televisi yang berhasil meraih <em>market share</em> tertinggi, karena paling banyak dimiliki oleh masyarakat di 7 kota tersebut adalah Sharp, Toshiba, Samsung, LG, dan Polytron, dengan <em>share </em>masing-masing 22,0%, 12,7%, 11,6%, 9.6%, dan 6,6%. Sedangkan merek-merek lainnya porsinya di bawah 6%.</p>
<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-358" title="tabel-tv2" src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv2.jpg?w=550&#038;h=288" alt="" width="550" height="288" /></a></p>
<p>Sebaliknya, penetrasi radio/tape recorder hanya bertengger pada angka 57,3%. Artinya, masih ada sekitar 43% masyarakat di 7 kota itu yang tidak memiliki pesawat radio maupun tape recorder. Memang pasca kehadiran beberapa stasiun swasta dengan sajian acara yang lebih menarik, maka gaung siaran radio tak santer lagi terdengar.</p>
<p>Masyarakat di Jakarta masih yang paling tinggi kepemilikan terdapat radio/tape dibanding kota-kota lain. Dengan porsi 61,7% Jakarta mengungguli Surabaya dan Denpasar yang masing-masing memperoleh 57,8%. Begitu pula dengan Bandung (52,7%) dan Medan (54,4%) maupun Makassar (38,7%).</p>
<p>Berbeda dengan televisi, masyarakat yang paling banyak menggandrungi radio/tape adalah mereka yang berada pada usia relatif tua yaitu antara 45-50 tahun. Sementara untuk SES hampir sama dengan televisi yaitu masyarakat di SES A, disusul SES B.</p>
<p>Adapun merek-merek radio/tape recorder yang paling tinggi <em>market share</em>-nya adalah Polytron, Sony, dan Shar, Panasonic, dan Samsung.***</p>
<p><em>Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter edisi Mei Tahun IV, 2010</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/355/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=355&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/05/11/penetrasi-televisi-mengungguli-radio-dan-tape-recorder/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/teve.jpg?w=122" medium="image">
			<media:title type="html">teve</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-tv1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/05/tabel-tv2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-tv2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsumen Indonesia Suka Barang Bermerek (Branded Item)</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/03/09/konsumen-indonesia-suka-barang-bermerek-branded-item/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/03/09/konsumen-indonesia-suka-barang-bermerek-branded-item/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 01:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consumer Behavior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Barang bermerek (branded items) seringkali dikaitkan dengan status sosial atau prestise seseorang. Para pemakainya seringkali dipersepsikan sebagai pribadi kelas atas, elegan, dan terpandang. Bagi mereka, produk bermerek tersebut bisa mengangkat percaya diri dan memacu keberanian tampil dalam pergaulan. Di Indonesia produk branded items telah lama hadir. Di zaman “Politik Berdikari” Bung Karno (1950an -1960an) merek-merek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=331&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/rolex.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/rolex.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="rolex" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-332" /></a>Barang bermerek (<em>branded items</em>) seringkali dikaitkan dengan status sosial atau prestise seseorang. Para pemakainya seringkali dipersepsikan sebagai pribadi kelas atas, elegan, dan terpandang. Bagi mereka, produk bermerek tersebut bisa mengangkat percaya diri dan memacu keberanian tampil dalam pergaulan.<br />
<span id="more-331"></span></p>
<p>Di Indonesia produk <em>branded items</em> telah lama hadir. Di zaman “Politik Berdikari” Bung Karno (1950an -1960an) merek-merek semacam Shalimar (minyak wangi), Pyramide (saputangan), Arrow (kemeja) dan Patek Philllippe (alroji) telah banyak dikenal. Begitu pula merek New Look (gaun), Bally (sepatu) maupun aroma jantan Old Spice (parfum) telah menyemburatkan kesegarannya di bumi Jakarta. </p>
<p>Dan setelah zaman Politik Berdikari berlalu, Jakarta benar-benar masuk dalam tren mode dunia dan menerima dengan tangan terbuka kehadiran merek terkemuka sejagat. Penggemar mode dan merek yang sadar akan mutu mulai mendapat kemudahan memperoleh produk tersebut di dalam negeri. Penjualan <em>branded items</em> marak dan memperoleh momentum ketika pembangunan pertokoan mewah dan mal melengkapi citra Jakarta metropolitan. Mereka diageni beberapa perusahaan yang sengaja dibentuk sebagai pemegang  franchise di Indonesia. </p>
<p>Nah, tentang perilaku belanja konsumen terhadap barang-barang bermerek (<em>branded item</em>), tidak hanya mode tapi juga <em>consumer goods, food &amp; beverage</em> dan semua barang rumah tangga, belum lama ini <strong>MARS Indonesia</strong> melakukan survei di 8 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Palembang) dengan jumlah responden 5.476 orang. Hasilnya, sebanyak 43% konsumen Indonesia sangat percaya merek alias menyukai produk-produk bermerek, dan hanya 3,4% saja yang tidak percaya merek. Sedangkan yang mengaku biasa-biasa saja terhadap barang bermerek sebanyak 53%.</p>
<p>Konsumen Medan menduduki peringkat teratas sebagai konsumen yang paling tinggi tingkat kepercayaannya terhadap barang bermerek, disusul konsumen Jakarta dan Semarang. Sebaliknya, konsumen Palembang menjadi yang paling rendah kepercayaannya pada barang bermerek, disusul Balikpapan. Sedangkan konsumen Bandung sebagai konsumen yang bersikap biasa-biasa saja terhadap produk bermerek.</p>
<p>Dilihat dari usia dan status sosial-ekonomi (SES), konsumen yang percaya merek mayoritas berasal dari kelompok usia muda (18-25 tahun ) dan SES A. Sementara yang tidak percaya pada merek dan atau bersikap biasa-biasa saja terhadap merek rata-rata berasal dari kelompok usia tua (35-55 tahun) dan SES D&amp;E.<br />
<a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/tabel-branded-item.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/tabel-branded-item.jpg?w=550&#038;h=299" alt="" title="tabel-branded item" width="550" height="299" class="aligncenter size-full wp-image-333" /></a><br />
Meskipun tingkat kepercayaan konsumen kita terhadap barang bermerek masih cukup tinggi, akan tetapi hal itu tidak berbanding lurus dengan tingkat pembelian. Faktanya, hanya sekitar 23% konsumen Indonesia yang menyatakan pasti beli barang bermerek. Sedangkan mayoritas konsumen (sebanyak 59%) menyatakan membeli kalau ada kebutuhan atau ada diskon. Adapun yang tidak pernah beli sama sekali sekitar 17%. Artinya, konsumen kita baru pada tahap <em>awareness</em> terhadap produk bermerek, dan belum sampai pada tahap penetrasi.</p>
<p>Yang memiliki tingkat pembelian tertinggi terhadap barang-barang bermerek rupanya adalah konsumen Medan, disusul Jakarta dan Surabaya. Sedangkan konsumen yang tidak pernah membeli barang bermerek, peringkat tertinggi diraih konsumen Palembang dan Balikpapan. Sementara yang membeli kalau ada kebutuhan/diskon, mayoritas adalah konsumen Bandung.</p>
<p>Berbeda dengan konsumen yang percaya, karakteristik konsumen yang suka beli barang bermerek mayoritas berasal dari kelompok usia dewasa (26-34 tahun). Sebaliknya, konsumen tidak suka beli barang bermerek adalah dari kelompok usia tua dan SES D&amp;E. Sementara konsumen yang beli barang bermerek kalau sedang ada diskon rata-rata berasal dari kelompok usia muda dan SES B. *** </p>
<p><em>Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter No.48 Tahun IV, Maret 2010</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/331/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=331&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/03/09/konsumen-indonesia-suka-barang-bermerek-branded-item/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/rolex.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">rolex</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/03/tabel-branded-item.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-branded item</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>52% Koneksi Internet Dilakukan dari Kantor</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/02/16/52-koneksi-internet-dilakukan-dari-kantor/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/02/16/52-koneksi-internet-dilakukan-dari-kantor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 12:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun pengguna internet di Indonesia saat ini terus merangkak naik hingga disinyalir mendekati angka 50 juta, terutama pasca demam Facebook yang melanda sebagian besar anak muda, toh kepemilikan koneksi jaringan internet di rumah boleh dibilang masih biasa-biasa saja. Penelitian MARS Indonesia yang dimuat dalam “Indonesian Consumer Profile 2009” menunjukkan bahwa kepemilikan koneksi jaringan internet di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=323&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/internet-cafe.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/internet-cafe.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" title="internet-cafe" width="150" height="100" class="alignleft size-thumbnail wp-image-324" /></a>Meskipun pengguna internet di Indonesia saat ini terus merangkak naik hingga disinyalir mendekati angka 50 juta, terutama pasca demam Facebook yang melanda sebagian besar anak muda, toh kepemilikan koneksi jaringan internet di rumah boleh dibilang masih biasa-biasa saja.<br />
<span id="more-323"></span></p>
<p>Penelitian <strong>MARS Indonesia</strong> yang dimuat dalam <em>“Indonesian Consumer Profile 2009”</em> menunjukkan bahwa kepemilikan koneksi jaringan internet di 8 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Palembang) yang disurvei baru sekitar 28,7%. Artinya, rumah tangga yang belum memiliki jaringan internet masih tinggi, yaitu sekitar 70,3%.</p>
<p>Kalau begitu, dari mana para pengguna internet selama ini melakukan koneksi internet? Ternyata mayoritas mereka mengaku mengakses internet dari kantor. Disusul kemudian dari warnet/kafe internet/rental dan rumah. Setelah itu baru dari kampus, rumah teman/saudara, perpustakaan, <em>handphone</em> dan hotel.</p>
<p>Untuk akses dari warnet mengalami peningkatan cukup tajam, dari sebelumnya (2008) 17,0% menjadi 35,1%. Begitu pula akses dari rumah naik 4,1% menjadi 27,6% dari sebelumnya 23,5%. Kenaikan yang sama diikuti kampus, rumah teman/saudara, perpustakaan dan <em>handpone</em>. Sedangkan yang mengalami penurunan adalah akses dari kantor, dari sebelumnya 58,35 menjadi 52,4%, dan hotel dari 0,4% menjadi nihil (0%).</p>
<p>Yang mencengangkan, meskipun pengguna <em>handphone </em>(ponsel) di Indonesia saat ini sudah di atas 140 juta orang, ternyata yang suka mengakses internet dari ponsel hanya 0,4%.<br />
<a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/tabel-internet.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/tabel-internet.jpg?w=550&#038;h=200" alt="" title="tabel-internet" width="550" height="200" class="aligncenter size-full wp-image-325" /></a><br />
Dari penelitian itu juga terlihat bahwa frekuensi akses internet sudah cukup tinggi, yakni sebanyak 42,4% responden menyatakan mengakses setiap hari. Sedangkan yang seminggu tiga kali hanya 22,5%, begitu pula yang seminggu sekali lebih kecil lagi yakni hanya 13,2%. Dengan lama akses dalam sekali koneksi antara 1-2 jam (30,6% responden).</p>
<p>Sementara waktu yang paling sering digunakan untuk melakukan koneksi internet adalah mayoritas pukul 10.00-12.00 (33,9%), selain juga pukul 20.00-22.00 (24,8%) dan 18.00-20.00 (23,5%). Dari sini makin jelas bahwa mayoritas pengguna memang masih melakukan koneksi internet dari tempat kerja atau kantor.</p>
<p>Apa yang mereka cari dengan koneksi internet? Seperti yang sudah jamak diketahui bahwa mayoritas adalah untuk tujuan <em>browsing</em> (67,6%), lalu untuk kirim email (64,9%), <em>download</em> (48,6%), dan <em>chatting</em> sebesar 36,4 %. ***</p>
<p><em>Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter No.47 Tahun ke-4 Februari 2010</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=323&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/02/16/52-koneksi-internet-dilakukan-dari-kantor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/internet-cafe.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">internet-cafe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/tabel-internet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-internet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menelisik Loyalitas Konsumen terhadap Merek</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/26/menelisik-loyalitas-konsumen-terhadap-merek/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/26/menelisik-loyalitas-konsumen-terhadap-merek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 03:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consumer Behavior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Pentingkah loyalitas konsumen terhadap sebuah merek? Bagi marketer/perusahaan, loyalitas pelanggan (consumer loyalty) merupakan tujuan utama yang terus-menerus diupayakan, karena dengan itu dipastikan perusahaan akan menangguk keuntungan besar. Istilah loyalitas pelanggan sebetulnya berasal dari loyalitas merek (brand loyalty) yang mencerminkan loyalitas pelanggan pada merek tertentu. Menurut Aaker (1997), loyalitas merek (brand loyalty) adalah ukuran kedekatan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=317&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/aaaaaaaa.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/aaaaaaaa.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="aaaaaaaa" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-318" /></a>Pentingkah loyalitas konsumen terhadap sebuah merek? Bagi marketer/perusahaan,    loyalitas pelanggan (<em>consumer loyalty</em>) merupakan tujuan utama yang terus-menerus diupayakan, karena dengan itu dipastikan perusahaan akan menangguk keuntungan besar. Istilah loyalitas pelanggan sebetulnya berasal dari loyalitas merek (<em>brand loyalty</em>) yang mencerminkan loyalitas pelanggan pada merek tertentu.<br />
<span id="more-317"></span></p>
<p>Menurut Aaker (1997), loyalitas merek (<em>brand loyalty</em>) adalah ukuran kedekatan yang dimiliki oleh seorang konsumen dengan sebuah merek. Loyalitas dimunculkan dari kepuasan yang diperoleh konsumen yang melibatkan komitmen konsumen itu untuk membuat investasi yang terus-menerus dengan merek atau perusahaan tertentu.</p>
<p>Sedangkan Mowen dan Minor (1998) menggunakan definisi loyalitas merek dalam arti kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap sebuah merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut, dan bermaksud meneruskan pembeliannya di masa mendatang. </p>
<p>Definisi ini didasarkan pada pendekatan perilaku dan pendekatan sikap. Pendekatan perilaku mengungkapkan bahwa loyalitas berbeda dengan perilaku beli ulang. Loyalitas merek menyertakan aspek emosi, perasaan atau kesukaan terhadap merek tertentu di dalamnya, sedangkan pembelian ulang hanya perilaku konsumen yang membeli berulang-ulang. </p>
<p>Loyalitas konsumen terhadap merek mempunyai berbagai tingkatan, dari loyalitas yang paling rendah hingga loyalitas yang paling tinggi. Semakin tinggi loyalitas terhadap suatu merek makin sulit konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga. </p>
<p>Tentang loyalitas terhadap merek ini, <strong>MARS Indonesia</strong> telah melakukan riset pasar seputar <em>”Perilaku Belanja Konsumen Indonesia 2009” </em>di 8 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Palembang), terutama untuk produk makanan/minuman, kosmetika, toiletries, dan barang rumah tangga.</p>
<p>Hasilnya, untuk produk makanan/minuman, konsumen mie instant memiliki loyalitas paling tinggi ketimbang konsumen teh hijau siap minum, minuman ringan bersoda, minuman energi cair, maupun konsumen teh siap saji sekalipun.</p>
<p>Sedangkan konsumen yang loyalitasnya sangat cair (<em>volatile</em>), maksudnya jika ada produk lebih bagus mereka berpindah merek adalah kosumen teh hijau siap minum. Sementara, jika ada produk memberi diskon/hadiah mereka berpotensi pindah merek adalah konsumen minuman energi cair. Adapun konsumen yang loyalitasnya paling rendah lantaran suka gonta-ganti merek adalah konsumen minuman ringan soda.<br />
<a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-loyalitas.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-loyalitas.jpg?w=550&#038;h=312" alt="" title="tabel-loyalitas" width="550" height="312" class="aligncenter size-full wp-image-319" /></a><br />
Lalu, untuk produk kosmetika, konsumen bedak wajah memiliki loyalitas merek paling tinggi (setia pada satu merek saja) dibandingkan konsumen lipstik, facial foam, dan hand&amp;body lotion. Sedangkan konsumen hand&amp;body lotion loyalitasnya sangat cair (<em>volatile</em>), mereka suka berpindah merek jika ada produk lebih bagus ataupun ada merek yang memberi diskon/hadiah. Mereka juga suka gonta-ganti merek, sehingga loyalitasnya bisa dibilang sangat rendah.</p>
<p>Lain halnya dengan produk toiletries, konsumen pasta gigi yang paling tinggi loyalitasnya terhadap sebuah merek. Sementara konsumen sabun mandi cair mudah berubah jika ada merek yang lebih bagus. Begitu pula konsumen pembelut wanita gampang berganti jika ada merek yang memberi diskon/hadiah. Adapun yang paling rendah tingkat loyalitasnya adalah konsumen sabun mandi padat dan shampoo.</p>
<p>Selanjutnya, untuk produk barang rumah tangga, yang memunyai tingkat loyalitas paling tinggi terhadap suatu merek adalah konsumen detergen bubuk. Sebaliknya, yang loyalitasnya paling rendah, juga suka ganti merek jika ada yang lebih baik atau yang memberi diskon/hadiah adalah konsumen minyak goreng. *** </p>
<p><em>Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter No. 46, Januari 2010</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=317&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/26/menelisik-loyalitas-konsumen-terhadap-merek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/aaaaaaaa.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">aaaaaaaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-loyalitas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-loyalitas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kacang Garuda, Kokoh Jadi Jawara</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/22/kacang-garuda-kokoh-jadi-jawara/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/22/kacang-garuda-kokoh-jadi-jawara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 03:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food & Beverage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang pasti suka kacang sebagai makanan ringan. Kacang yang dulu hanya sebagai penganan kelas kampung, kini setelah diolah secara higienis melalui proses fabrikasi, berubah menjadi camilan bagi semua kalangan dan kerap hadir di berbagai kesempatan. Alhasil, kacang dengan berbagai variannya, kini menjadi menu makanan ringan andalan. Namun tahukah Anda, di antara berbagai merek kacang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=313&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/kacang-garuda.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/kacang-garuda.jpg?w=105&#038;h=150" alt="" title="kacang garuda" width="105" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-314" /></a>Setiap orang pasti suka kacang sebagai makanan ringan. Kacang yang dulu hanya sebagai penganan kelas kampung, kini setelah diolah secara higienis melalui proses fabrikasi, berubah menjadi camilan bagi semua kalangan dan kerap hadir di berbagai kesempatan. Alhasil, kacang dengan berbagai variannya, kini menjadi menu makanan ringan andalan.<br />
<span id="more-313"></span></p>
<p>Namun tahukah Anda, di antara berbagai merek kacang yang saat ini beredar manakah yang <em>leading</em> di pasaran? Kalau melihat data <em>“Indonesian Consumer Profile 2008”,</em> ternyata Kacang Garuda masih kokoh menjadi jawara, alias sebagai <em>market leader</em> di antara berbagai merek kompetitornya, dengan perolehan <em>market share</em> sangat fantastis yaitu 88,7%.</p>
<p>Menyusul di belakangnya adalah rival abadinya, yaitu Dua Kelinci (10,1%), yang sama-sama ber-<em>home base</em> di Pati Jawa Tengah. Berikutnya adalah kacang merek Kaya King (0,6%), lalu merek Gajah (0,1%), Merpati (0,1%), dan Iyes (0,1%), serta merek-merek lainnya di bawah 0,1%.</p>
<p>Kacang merek Garuda yang diproduksi PT Garudafood hampir unggul besar di semua kota yang menjadi basis penelitian <strong>MARS Indonesia</strong>, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Denpasar. Perolehan <em>market share</em> Dua Kelinci yang paling besar terjadi di Medan, namun tetap nomor dua di bawah Garuda.<br />
<a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-kacang.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-kacang.jpg?w=550&#038;h=322" alt="" title="tabel-kacang" width="550" height="322" class="aligncenter size-full wp-image-315" /></a><br />
Perihal Kacang Garuda yang hampir selama satu dasawarsa menjadi jawara menggeser rival bebuyutannya, yaitu Dua Kelinci yang diproduksi PT Dwi Kelinci, menarik untuk dicermati. Muncul pertama dengan merek Kacang Garing Garuda pada 1987, PT Garudafood terus menggali inovasi untuk meluncurkan produk-produk baru yang benar-benar memberikan nilai tambah kepada konsumen. </p>
<p>Kini tak kurang dari 10 <em>item</em> varian kacang berhasil diproduksi. Contohnya saja kacang atom, kacang atom pedas, kacang kulit rawa bawang, BIGA (kacang kulit khusus isi tiga), dan jenis produk kacang lainnya. Dengan tersedianya Kacang Garuda secara meluas di pasaran, membuat konsumen mudah mendapatkannya saat ingin menikmatinya.</p>
<p>Keunggulan Garudafood juga tampak dari sisi distribusi melalui anak perusahaannya, PT Sinar Niaga Sejahtera, dan dalam upaya membangun merek. Dalam hal belanja iklan pun Garudafood mengalokasikan dana cukup besar, diperkirakan sekitar Rp 20 miliar per tahun sejak 2005.</p>
<p>Pendeknya, Garudafood sangat kokoh di pilar distribusi, promosi, diversifikasi, riset pasar, teknologi informasi dan SDM. Garudafood setelah dikendalikan Sudhamek termasuk berani menggelontorkan dana untuk rekrutmen dan pelatihan guna mencetak bibit-bibit profesional, dan berani membayar remunerasi yang bersaing untuk profesional yang dipinang dari perusahaan lain. </p>
<p>Alhasil, Kacang Garuda meraih pelbagai penghargaan sebagai berikut: Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) kategori kacang bermerek delapan kali berturut-turut (2000-2007); Superbrands (2003); Top Brand for Kids (2004); Indonesian Best Brand Award (IBBA, 2004-2007); Top Brand (2007).</p>
<p>Kini, seluruh potensi yang ditopang kekuatan sekitar 19 ribu karyawan berkepribadian unggul (<em>knowledge worker</em>) itu menjadi modal utama Garudafood dalam upaya menyongsong sukses sebagai sebuah <em>sustainable enterprise</em>, yang akan terus-menerus menangguk manisnya pasar kacang dalam negeri yang ditengarai mencapai Rp 75-100 miliar per bulan atau Rp 900 miliar-1,2 triliun per tahun. ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=313&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/22/kacang-garuda-kokoh-jadi-jawara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/kacang-garuda.jpg?w=105" medium="image">
			<media:title type="html">kacang garuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-kacang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-kacang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendengar Setia Radio Capai 37%</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/14/pendengar-setia-radio-capai-37/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/14/pendengar-setia-radio-capai-37/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 04:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Di era multimedia saat ini, eksistensi radio seolah terpinggirkan. Media yang punya rekam jejak menakjubkan pada masa awal kemerdekaan, era demokrasi terpimpin, hingga orde baru ini, kini perannya seolah mati suri oleh kehadiran media televisi, internet, hingga telepon selular (mobile media). Sampai akhir dekade 1980-an masih dapat disaksikan betapa kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap siaran radio [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=309&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/radio.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/radio.jpg?w=150&#038;h=130" alt="" title="radio" width="150" height="130" class="alignleft size-thumbnail wp-image-311" /></a>Di era multimedia saat ini, eksistensi radio seolah terpinggirkan. Media yang punya rekam jejak menakjubkan pada masa awal kemerdekaan, era demokrasi terpimpin, hingga orde baru ini, kini perannya seolah mati suri oleh kehadiran media televisi, internet, hingga telepon selular (<em>mobile media</em>).<br />
<span id="more-309"></span></p>
<p>Sampai akhir dekade 1980-an masih dapat disaksikan betapa kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap siaran radio masih begitu tinggi. Seperti tampak pada acara Kelompencapir di RRI, sandiwara radio Saur Sepuh di radio-radio swasta, pertandingan bulutangkis tingkat internasional di RRI pusat, hingga siaran pertandingan sepakbola Liga Galatama dan Perserikatan yang juga selalu disiarkan secara <em>live</em> oleh stasiun RRI daerah.</p>
<p>Baru pada awal 1990-an ketika stasiun televisi swasta bermunculan menyajikan alternatif tayangan  yang lebih menarik, maka gaung siaran radio tak santer lagi terdengar. Maklum dengan kekuatan visualnya, televisi berhasil memberikan sesuatu yang tidak dipunyai oleh radio. </p>
<p>Namun demikian, berkat beberapa inovasi dan strategi kreatif yang dilakukan oleh para pegiat radio, media ini kini mampu eksis kembali menyapa pendengarnya yang masih tersisa. Terutama dengan kecepatan informasi yang dipunyai radio, para pekerja/karyawan di beberapa kota besar yang berkendara pribadi saat menuju kantor masih tetap setia menjadi pendengarnya.</p>
<p>Begitu pula masyarakat di beberapa daerah terpencil atau perbatasan, telah menjadikan siaran radio khususnya RRI sebagai media hiburan dan informasi satu-satunya. Data RRI menyebutkan, 85% warga di Ende, Nusa Tenggara Timur, mendengarkan RRI. Juga di Bangka-Belitung, 90% warganya mendengarkan RRI.</p>
<p>Tapi berapakah sesungguhnya pendengar radio yang masih tersisa? Mampukah ia berkompetisi untuk berebut ceruk pasar (<em>market nieche</em>) yang masih ada? Siapa saja pendengarnya dan di kota mana ia mampu mempertahankan daya tariknya? </p>
<p>Kalau mengacu pada hasil survei <strong>MARS Indonesia</strong> di 8 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Palembang) yang termuat dalam <em>“Perilaku Belanja Konsumen Indonesia 2009”</em> maka jumlah pendengar radio secara total masih sekitar 37%. Semarang menjadi kota yang warganya paling suka mendengar siaran radio, disusul kemudian Palembang dan Surabaya. Sebaliknya, kota yang warganya paling banyak meninggalkan siaran radio adalah Balikpapan dan Medan. </p>
<p>Karakteristik pendengar radio yang masih setia tersebut mayoritas berasal dari kelompok usia muda (18-25 tahun) dengan strata sosial ekonomi (SES) kategori B, yaitu yang pengeluaran bulanannya di bawah Rp 2.500.000 hingga Rp 1.250.000.<br />
<a href="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-radio.jpg"><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-radio.jpg?w=550&#038;h=400" alt="" title="tabel-radio" width="550" height="400" class="aligncenter size-full wp-image-310" /></a><br />
Sementara stasiun radio yang masih memiliki sihir kepada pendengarnya adalah Gen FM yang berada pada posisi teratas untuk kota Jakarta, dengan jumlah pendengar mencapai 40,8%. Disusul berikutnya Muara FM (11%), I-Radio (9,3%), Kiss FM (7,4%), dan Kayu Manis (6,5%). Sedangkan stasiun radio terfavorit di Bandung adalah Dahlia (25,1%) dan Rama FM (22,6%), Semarang adalah Pop FM (25%) dan Gajah Mada (22,7%), Surabaya adalah M-Radio (34,9%), Makassar adalah Gamasi (44,9%), dan Palembang adalah Elita FM (41,4%).    </p>
<p>Acara yang paling banyak menyedot pendengar radio mayoritas adalah musik (82%), lalu berita dan ceramah. Sedangkan informasi lalu lintas hanya menduduki peringkat kelima, masih kalah dengan acara wawancara dengan nara sumber yang berada di peringkat keempat. Tempat yang paling sering dipakai untuk mendengarkan radio adalah rumah sebagai pilihan utama, lalu kendaraan dan kantor/tempat kerja.   </p>
<p>Saat kapan mereka sering mendengarkan siaran radio? Ternyata waktu favorit pertama adalah antara jam 06.00-08.00 WIB, disusul kemudian jam 20.00-22.00 WIB dan terakhir antara jam 08.00-10.00 WIB. ***  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=309&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2010/01/14/pendengar-setia-radio-capai-37/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/radio.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">radio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2010/01/tabel-radio.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-radio</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dji Sam Soe Masih Terunggul di  Rokok Kretek</title>
		<link>http://dzumar.wordpress.com/2009/11/04/dji-sam-soe-masih-terunggul-di-rokok-kretek/</link>
		<comments>http://dzumar.wordpress.com/2009/11/04/dji-sam-soe-masih-terunggul-di-rokok-kretek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 02:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Healthy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzumar.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Meski kebiasaan merokok disinyalir tidak baik untuk kesehatan, toh jumlah perokok di Tanah Air terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini saja jumlah perokok diperkirakan sebanyak 69% dari total populasi pria Indonesia. Angka ini paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti China (53,4%), India (29,4%), dan Thailand (39,3%). Bahkan berdasarkan penelitian Global Youth Tobacco, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=302&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2009/11/puzzle-kayu-dji-sam-soe.jpg?w=117&#038;h=150" alt="puzzle kayu dji sam soe" title="puzzle kayu dji sam soe" width="117" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-303" />Meski kebiasaan merokok disinyalir tidak baik untuk kesehatan, toh jumlah perokok di Tanah Air terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini saja jumlah perokok diperkirakan sebanyak 69% dari total populasi pria Indonesia. Angka ini paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti China (53,4%), India (29,4%), dan Thailand (39,3%).<br />
<span id="more-302"></span></p>
<p>Bahkan berdasarkan penelitian Global Youth Tobacco, diperkirakan dari 70 juta jumlah anak di Indonesia, 37% atau 25,9 juta anak di antaranya merokok. Data BPS menyebutkan, selama periode 2001-2004 kenaikan jumlah perokok anak terus meningkat dari 0,4% menjadi 2,8%.</p>
<p>Banyaknya perokok di negeri ini bisa dipahami, mengingat industri rokok memiliki <em>multiplier effect</em> sangat besar bagi negara, terutama pada sektor penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri ini diperkirakan sekitar 18 juta jiwa, mulai dari hulu hingga hilir. </p>
<p>Dewasa ini bisnis rokok makin semarak dan ramai, terlebih lagi banyak bermunculan merek-merek baru. Yang paling banyak peminatnya di pasaran adalah rokok jenis kretek, karena inilah rokok asli Indonesia yang dibuat sejak 1880-an di Kudus. Apalagi saat ini Indonesia merupakan produsen dan eksportir rokok kretek terbesar di dunia. </p>
<p>Nah, di antara beberapa merek rokok kretek yang beredar di pasaran, manakah sesungguhnya yang paling tinggi <em>market share</em>-nya? Kalau mengacu ke riset <strong>MARS Indonesia</strong> dalam <em>“Indonesian Consumer Profile 2008”</em> maka Dji Sam Soe yang diproduksi PT HM Sampoerna adalah yang memiliki <em>market share </em>tertinggi, mengalahkan merek lain. Pada 2006 ia berhasil mengumpulkan <em>market share</em> sebanyak 39,9%, setahun kemudian melonjak menjadi 47,0%. </p>
<p>Sementara Gudang Garam dan Djarum yang berada di peringkat kedua dan ketiga, <em>market share</em>–nya justru melorot. Jika pada 2006 Gudang Garam meraih 28,8% maka pada 2007 tinggal 17,2%. Begitu pula Djarum, dari 23,3% pada 2006 turun menjadi 17,0% pada 2007.</p>
<p>Peringkat keempat, yaitu Sampoerna, agaknya mengikuti jejak sejawatnya Dji Sam Soe yaitu berhasil lompat tinggi, dari 5,1% pada 2006 menjadi 16,9% pada 2007. Adapun peringkat kelima dan keenam terjadi pergeseran. Bentoel dan Bokormas yang menduduki posisi kelima dan keenam pada 2006 dengan <em>market share</em> 1,0% dan 0,6% pada 2007 posisinya direbut oleh Mansion Super Class dan Galan 999 dengan <em>market share</em> 0,4% dan 0,3%. Lalu peringkat ketujuh dan seterusnya diraih merek-merek lain dengan <em>market share</em> di bawah 0,6% dan 0,3%.<br />
<img src="http://dzumar.files.wordpress.com/2009/11/tabel-rokok.jpg?w=550&#038;h=222" alt="tabel-rokok" title="tabel-rokok" width="550" height="222" class="aligncenter size-full wp-image-304" /><br />
Perihal upaya pembatasan terhadap kebiasaan merokok yang dilakukan oleh beberapa pihak seperti LSM, Depkes, dan Pemda, tampaknya akan menemui jalan terjal, mengingat penetrasi rokok sendiri sudah sedemikian mendalam. </p>
<p>Riset MARS menunjukkan, angka penetrasinya rata-rata di atas 25%. Berdasarkan kota, Jakarta dan Bandung menduduki peringkat tertinggi dengan persentase 29,0% dan 27,5%, mengalahkan Semarang, Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar.</p>
<p>Sedangkan berdasarkan usia dan kelas sosial-ekonomi, kebiasaan merokok sudah menjadi candu bagi para pria berusia 25-55 tahun, dengan kelas sosial-ekonomi (SES) level B yaitu mereka yang tingkat pengeluaran belanja bulanannya antara Rp 1.250.000 hingga Rp 1.750.000. ***  </p>
<p><em>Tulisan ini dibuat untuk MARS Newsletter No.41, Tahun III, November 2009</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dzumar.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dzumar.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dzumar.wordpress.com&amp;blog=4972445&amp;post=302&amp;subd=dzumar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzumar.wordpress.com/2009/11/04/dji-sam-soe-masih-terunggul-di-rokok-kretek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cab8714e49919a2fb20c026d3f6d4ab6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dzumar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2009/11/puzzle-kayu-dji-sam-soe.jpg?w=117" medium="image">
			<media:title type="html">puzzle kayu dji sam soe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzumar.files.wordpress.com/2009/11/tabel-rokok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel-rokok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
